Wednesday

KIOS SUARA HATI

suara hati
Beberapa waktu yang lalu pernah muncul sebuah kisah menarik yang ditayangkan dalam berita televisi di Taiwan. Di pegunungan Alishan ada sebuah tempat yang bernama Rueili. Seutas jalan yang menghubungkan Chiay dan Alishan melewati daerah ini.

Di pinggir jalan ada sebuah tempat penjualan sayur-sayuran segar, sayuran yang tumbuh dan mendapat pupuk organik alamiah tanpa bahan-bahan kimia yang dewasa ini disinyalir oleh dunia medis sebagai unsur yang bisa mendatangkan kanker. Di samping sayur mayur, ada juga buah-buahan segar dijajar dalam kiosk kecil itu.

Namun anehnya...Kios itu terbuka selama 24 jam sehari dan tak pernah ditutup. Lebih aneh lagi, tak ada seorangpun yang duduk di sana melayani para pembeli. Daftar harga per kilogram dari masing-masing barang tertulis jelas. Sebuah alat timbang terletak di atas meja. Sebuah tong yang dibuat dari kayu ditinggalkan di salah satu sudut. Dalam tong kayu ini terdapat lembaran uang kertas serta uang logam yang dimasukan oleh para pembeli.

Di luar kios tersebut tertulis dalam huruf Cina; “Kios Suara Hati.”

Seorang ibu tua, penduduk asli di daerah pegunungan Alisan, ketika ditanya oleh wartawan TV berkata; “Lewat kios kecil ini saya ingin mendidik setiap orang untuk menghormati suara hati masing-masing. Di sini tak ada orang yang menjaga. Namun saya yakin, suara hati setiap orang akan meneguhkan atau mengadili bila ia berbuat sesuatu.”

semoga bermanfaat

Tuesday

Do'a


Monday

Mahatma Gandhi dan Anak Pemakan Gula

فوترا ملايو: [Kisah Inspiratif]: Mahatma Gandhi dan Anak Pemakan Gula:

mahatma gandhi
Ketika ia masih muda, Mahatma Ghandi tinggal dan belajar di London, tepatnya di Universitas College. Dari sinilah, ia mendapat bekal membuka praktik hukum di India,lalu setelah itu ke Afrika Selatan dan mulai melakukan pembelaan terhadap pekerja India maupun kulit hitam

Alkisah, ketika ia masih mahasiswa tersebut, Ghandi tinggal di kamar berukuran kecil bersama ibu semangnya (semacam ibu angkat).

Suatu ketika, Ibu semangnya suatu hari mendatanginya dan berkata:

“Tuan Gandhi, putera saya ini tidak mau mendengarkan saya, namun entah mengapa dia mau mendengarkan nasehat Anda. Ohya, dia terlalu banyak makan gula. Saya sangat khawatir... Jadi, bisakah Anda menasehatinya agar tidak makan gula terlalu banyak?”

Gandhi yang saat itu belum populer mengatakan

lazada
“Tentu, Bu. Saya akan menasehatinya...".

Hari-hari pun berlalu sejak percakapan itu. Hari berlalu dan menjadi mingggu demi minggu, minggu berlalu menjadi bulan, namun si anak masih makan gula sebanyak sebelumnya.

Melihat tidak ada perubahan, suatu ketika Ibu semangnya itu menemui Gandhi lagi dan berkata

“Tuan Gandhi, apa anda ingat apa yang saya katakan beberapa minggu lalu mengenai kebiasaan putera saya makan gula? Anda bilang akan menasehatinya, tapi kenapa belum?”

Gandhi menjawab:

“Saya sudah menasehati putera ibu agar tidak makan gula banyak, tapi baru pagi ini...”

“Baru pagi ini? Mengapa menunggu selama itu?” Tanya Ibu semangnya.

“Karena, saya pun baru kemarin berhenti makan gula,” jawab Gandhi.

***
Untuk memeberi nasehat kepada seseorang, apalagi melarang, tak cukup dengan kata-kata. Tapi harus dimulai dari diri sendiri.

Bagaimana seorang ayah melarang putranya merokok, sementara ia sendiri masih pecandu rokok?
Sangat banyak contoh lain dalam  kehidupan  kita.